Saya, Nelius Awaki, sejak awal percaya bahwa musik bukan hanya tentang nada, suara, dan panggung. Musik adalah cara kita bercerita. Musik adalah cara kita mengingat. Dan bagi saya, musik juga merupakan salah satu jalan untuk menjaga identitas kita sebagai orang Papua.

Bersama Oyandi, saya belajar bahwa sebuah lagu daerah dapat membawa begitu banyak cerita. Di dalam liriknya ada bahasa, ada kehidupan, ada alam, ada hubungan dengan leluhur, ada nilai adat, dan ada pengalaman hidup masyarakat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, saya memilih untuk terus menyanyikan dan mengembangkan lagu-lagu daerah Papua, termasuk menggunakan bahasa daerah sebagai bagian penting dalam karya musik.

Saya melihat sendiri bagaimana perkembangan zaman membawa banyak perubahan. Anak-anak muda Papua sekarang hidup dalam dunia yang semakin terbuka. Mereka mendengar berbagai jenis musik dari seluruh dunia, menggunakan berbagai bahasa, dan berinteraksi dengan berbagai budaya.

Itu bukan sesuatu yang harus kita takutkan.

Tetapi di tengah keterbukaan itu, saya percaya kita harus tetap memiliki akar.

Kita boleh berjalan jauh, tetapi jangan sampai lupa dari mana kita berasal.

Bahasa daerah adalah salah satu akar itu.

Ketika seorang anak Papua masih mampu menyanyikan lagu dalam bahasa daerahnya, saya melihat ada sebuah harapan. Ketika seorang anak muda merasa bangga menggunakan bahasa daerah dalam sebuah karya musik, saya melihat bahwa budaya kita masih memiliki masa depan.

Itulah alasan saya bersama Oyandi terus berjalan.

Kami tidak ingin budaya Papua hanya menjadi cerita dalam buku atau menjadi pertunjukan ketika ada festival. Kami ingin budaya itu tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari, dalam lagu, dalam bahasa, dalam karya seni, dan terutama dalam hati generasi muda Papua.

Saya percaya bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang kaku.

Budaya bisa dirawat melalui musik.

Budaya bisa dirawat melalui kreativitas.

Budaya bisa dirawat melalui teknologi.

Dan budaya bisa diperkenalkan kepada dunia melalui panggung internasional.

Ketika Oyandi Papua berdiri di atas panggung dan menyanyikan lagu Papua dalam bahasa daerah, bagi saya itu bukan sekadar pertunjukan.

Itu adalah sebuah pernyataan bahwa kami masih ada.

Kami membawa nama Papua.

Kami membawa bahasa Papua.

Kami membawa cerita Papua.

Kami membawa suara leluhur.

Dan kami membawa harapan generasi muda Papua.

Saya menyadari bahwa apa yang kami lakukan mungkin kecil dibandingkan luasnya tantangan pelestarian budaya Papua. Tetapi saya percaya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil.

Satu lagu bisa membuat seorang anak mengenal bahasa daerahnya.

Satu lirik bisa membuat seseorang bertanya tentang asal-usulnya.

Satu pertunjukan bisa membuat orang lain mengenal budaya Papua.

Dan satu generasi yang bangga terhadap budayanya dapat menjadi jembatan bagi generasi berikutnya.

Karena itu, saya ingin terus berjalan bersama Oyandi.

Bukan hanya mengejar panggung.

Bukan hanya mengejar popularitas.

Tetapi membawa sebuah misi:

Merawat budaya Papua melalui musik, menjaga bahasa daerah melalui lagu, dan memperkenalkan identitas Papua kepada Indonesia dan dunia.

Saya berharap suatu hari nanti anak-anak Papua akan menyanyikan lagu-lagu daerah bukan karena diwajibkan, tetapi karena mereka bangga.

Bangga dengan bahasanya.

Bangga dengan budayanya.

Bangga dengan tanah leluhurnya.

Dan bangga menjadi bagian dari Papua.

Bagi saya, itulah makna perjalanan Oyandi.

Kami bernyanyi untuk hari ini, tetapi kami menanam pesan untuk generasi yang akan datang.

Nelius Awaki

Pendiri Sanggar Seni Oyandi
Personil Oyandi Voice Papua

“Oyandi Papua — Beat of Culture.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *